Sabtu, 08 Mei 2010

Perjalanan Wisata dan perbedaan nilai budaya

Adrian Kurnia
Dear Diary,

Saya baru aja pulang dari Australia nih. Disana, saya study tour bareng teman-teman saya. Kami ke universitas-universitas untuk lebih memahami kehidupan di universitas nanti, dan juga untuk jalan-jalan dan bersenang-senang. Banyak hal yang kami lihat dan pelajari dari rakyat Australia dan Negara itu sendiri. Tinggal disana berarti mengaplikaskan budaya dan cara hidup mereka ke hidup kami. Nilai-nilai budaya disana beda banget sama yang di Indonesia. Di beberapa aspek, Australia lebih baik. Tetapi di aspek-aspek lainnya, Indonesia tampil lebih baik dan cemerlang.


Nilai budaya Australia tampil lebih baik di banyak hal. Contohnya, tidak seperti kita, orang-orang Indonesia yang suka membuang sampah sembarangan, mereka membuang sampah secara teratur. Bahkan, mereka menyediakan tong sampah yang berbeda-beda untuk tipe sampa yang berbeda. Tong sampah disana dipisah dengean bahan dari sampahnya. Tempat sampah yang berlabel “paper” hanya diisi dengan kertas, dan begitu juga dengan kaleng, plastic, dan bahan-bahan lainnya. Maka dari itu, bisa dilihat bahwa Negara Australia lebih bersih dan rapi daripada Indonesia. Budaya Australia juga ada yang baik sekali. Ketika murid-murid Australia belajar disekolah, mereka tidak terlalu terbiasa untuke berbicara satu dengan yang lain. Mereka menghormati guru yang sedang menjelaskan dan mengajar didepan. Untuk mereka, berbicara ketika orang lain sedang berbicara merupakan suatu tindakan yang tak terhormat. Jadi ketika saya dan teman-teman masuk kelas disana, kami hanya duduk diam dan mendengarkan ajaran guru. Namun, di sekolah saya, peristiwa seperti itu sudah jarang sekali ditemui. Biasanya ketika guru sedang mengajar, banyak murid yang bercanda, bermain-main dan ngobrol.

Di sisi lain, Indonesia lebih baik dari Australia. Di beberapa kota di Australia, ada banyak orang yang rasis. Mereka tidak suka kepada orang-orang asia yang datang kenegara mereka. Jika ada satu kelompok orang rasis yang bertemu orang asia, mereka akan megejar orang-orang asia tersebut, sambil mengejek-ejek dan mengolok-olok. Bahkan, ada beberapa dari mereka yang tidak segan untuk menghajar dan memukuli orang-orang Asia. Untungnya, sekolah-sekolah yang kita kunjungi melarang berat aksi dan tindakan rasisme, sehingga kami pun merasa tenang. Budaya sosial Indonesia, seperti gotong royong dan menyium tangan orang tua sebelum meninggalkan rumah jarang sekali ditemui selama perjalanan saya itu.


Sewaktu makan siang, saya juga melihat banyak orang-orang Australiayang hanya makan roti dan minum coca-cola. Saya juga bingung melihtnya, soalnya mereka kalau hanya makan segitu, apa kenyang ya? Kita aja, orang Indonesia kalau makan siang biasanya makan nasi dan lauk-lauk lainnnya. Kalau saya, pasti tidak puas dengan makanan sesedikit itu.


Dari perjalanan wisata ini, saya bisa liat kalo orang-orang dari beda negara itu mempunyai nilai-nilai budaya yang berbeda. Mungkin suatu bangsa lebih baik di suatu bidangn daripada bangsa lain. JIka saja, Indonesia bisa mencontoh budaya-budaya positif dari Australia, pasti Indonesia akan lebih baik. Bayangkan saja, jika semua warga di Indonesai tidak membuang sampah sembarangan. Pasti Indonesia akan lebih bersih! Akan lebih baik juga, bila budaya Indonesia itu beragam dan beraneka macam. Mengambil budaya-budaya positif dari grup lain akan lebih mewarnai Indonesia.


Adrian Kurnia 11.3

Jumat, 23 April 2010

Pentingnya nilai-nilai tradisional bagi remaja masa kini

Nilai-nilai tradisional sangatlah penting bagi remaja, apalagi remaja masa kini. Sayangnya, remaja-remaja masa kini kurang menghormati dan memperdulikan nilai-nilai tradisional yang telah ada. Nilai-nilai tradisional yang dimaksud termasuk menghormati, gotong royong, sopan santun, membungkuk dan menyapa, dan nilai-nilai moral positif yang lain. Sebagai contoh simpel, budaya gotong royong di Indonesia yang bernilai positif sekarang sudah hampir terkikis habis. Kebanyakkan individual sudah tidak mau tahu dan peduli dengan orang lain.


Pada dasarnya, nilai-nilai tradisional Indonesia adalah positif. Beberapa contoh adalah sopan santun, ketaatan, dan kebersamaan. Semua nilai-nilai ini condong membuat dampak positif. Namun, karena remaja-remaja sudah tidak peduli kepada nilai-nilai tersebut, remaja bisa condong melakukan hal-hal yang negatif. Sekarang ini, remaja-remaja menghabiskan harinya menyimak film di tv yang merupakan pengaruh dari negara lain. Jadi, mereka jarang-jarang berkumpul dengan komunitas untuk melakukan kerja bakti dan hal-hal yang positif yang bisa memperbaik bangsa. Dari contoh diatas, bisa dilihat bahwa jika remaja tidak memegang nilai-nilai tradisional, bukan hal-hal yang baik yang akan muncul malah hal-hal yang negatif.


Nilai-nilai tradisional memang diperlukan untuk membangun karakter remaja. Nilai-nilai Indonesia bisa menciptakan remaja-remaja yang lebih baik dan juga membangun rakyat dan komunitas yang lebih unggul. Karakter remaja yang lebih sering menempel pada nilai-nilai tradisional, pasti memiliki karakter yang lebih baik dari mereka yang tidak mengenal nilai-nila tradisional. Bukankah begitu? Buktinya, anak seorang ibu yang menginjak umur 17 sudah mulai mengenakan anting. Ibunya terkejut-kejut karena pasalnya, ia remaja yang baik-baik saja, dan cenderung disukai oleh teman, guru, maupun orangtuanya sendiri karena selalu berperan sesuai harapan. Juga sudah banyak remaja yang men-tato dirinya dan menganggap dirinya keren. Jadi kita bisa melihat bahwa remaja yang terbawa dunia modern dan meninggalkan nilai-nilai tradisional lebih condong berkarakter tidak baik.


Nilai-nilai tradisional juga penting karena jikalau remaja masa kini menjaga nilai moral tersebut, maka karakter remaja-remaja generasi berikutnyapun juga bisa tertolong. Mereka bukan hanya memperbaik diri mereka sendiri, tetapi juga mempengaruhi dan membangun karakter generasi-generasi selanjutnya. Denga begitu, ikatan rantai ini aka terus berjalan dan hal-hal positif bisa terlihat. Kebudayaan tradisional Indonesia yang baik juga bisa terlihat oleh bangsa-bangsa lain. Dan nama Indonesia bisa dijunjung tinggi karena itu. Dengan menghargai budaya lokal, seorang remaja juga telah berupaya mengikat sikap dan perilaku dalam dalam bermasyarakat untuk lebih apresiasif terhadap nilai-nilai kebaikan.


Salah satu sebab utama mengapa remaja-remaja masa kini adalah dampak dari teknologi dan budaya dari tempat lain. Seiring dengan perkembangan zaman, nilai budaya tradisional mulai terlupakan oleh generasi muda akibat teknologi.Maka dari itu, solusi agar remaja bisa menghargai nilai-nilai tradisional adalah mengurangi, bahkan kalau bisa memotong ikatan antara mereka dan teknologi dan pergaulan yang buruk. Cara lain juga termasuk memberikan pelajaran tentang budaya kepada generasi muda terutama di kalangan usia sekolah, dengan melibatkan mereka dalam seluruh kegiatan budaya tradisional.


Nilai-nilai tradisional sudah terbukti pentingnya untuk remaja. Sebagai remaja, kita harus menetapkan nilai-nilai tersebut sebagai prinsip di hidup kita. Sehingga, hidup kita bisa lebih berarti, baik dan berguna bagi orang lain. Ketika hal-hal itu bisa dipegan erat oleh remaja-remaja, kita bisa lihat kekompakkan remaja secara positif dan kemampuan mereka yang hebat. Sudah saatnya remaja tidak tinggal diam. Sebagai remaja, kita harus tetap menjaga nilai-nilai tradisional dan meraup keuntungannya. Mulailah dengan diri sendiri dan orang-orang didekat kita, lalu bersama-sama kita mengubah dan memperbaiki zaman ini!


Sumber: http://www.batukar.info/news/nilai-budaya-tradisional-mulai-terpinggirkan
http://djogjalicious.wordpress.com/2009/11/08/remaja-dan-budaya-lokal/
http://kesehatan.kompas.com/read/2010/04/07/10363343/Remaja..Dunia.Penuh.Ekspresi

Oleh Adrian Kurnia 11.3

Sabtu, 17 April 2010

Pergaulan Remaja Masa Kini

Perkembangan internet telah memudahkan banyak remaja untuk berkomunikasi dengan lebih mudah.Pergaulan melalui internet itu terus memuncak dengan adanya Facebook dan Blackberry. Namun, banyak remaja telah menyalahgunakan kesempatan tersebut, sehingga dan kecanduan internet. Seorang pakar psikolog di Amerika David Greenfield, menemukan sekitar 6% dari pengguna internet mengalami kecanduan. Mereka merasakan bahwa kepuasan dan kesenangan bisa mereka gapai melalui internet. Hal itu bisa menyebabkan dampak-dampak negative bagi remaja. Contohnya, banyak siswa yang tinggal di suatu kota di Jawa Barat ketagihan games online. Di banyak kejadian, mereka sering lupa waktu. Mereka bahkan memakai uang bayaran sekolah untuk membayar uang sewa bermain games online. Mereka bergaul dan berkomunikasi lewat internet, dan itu bukanlah pergaulan dan perlakuan yang baik. Bisa dilihat dari kasus diatas, bahwa banyak remaja tidak menggunakan kesempatan yang sudah diberikan dengan benar. Mereka berkomunikasi dan bergaul melalui internet dan kemudian menjadi korban internet. Itulah pergaulan kebanyakkan remaja masa kini- sebuah pergaulan bisa berdampak buruk. Pergaulan semacam itu tentu terlihat negatif.

Menurut saya, kecanduan internet itu tidak baik. Pergaulan di hidup banyak anak remaja kurang baik. Internet memang mempunyai nilai positif, dan nilai-nilai positif itulah yang harus remaja-remaja dapat dari internet, bukan yang negatif. Internet mempermudah komunikasi dan mempererat pergaulan antar remaja. Ketika kecanduan internet, banyak dampak buruk bisa terlihat. Suatu dampak buruk yang signifikan adalah turunnya nilai akademis remaja-remaja. Hasil penilitian riset oleh peneliti Aryn Karpinski dari Ohio State University, Amerika Serikat membuktikan bahwa para mahasiswa di Amerika Serikat yang rutin mengutak-atik Facebook punya nilai lebih rendah ketimbang mereka yang tidak melakukannya. Jika sudah teradiksi oleh internet, saya rasa banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi adiksi itu. Salah satu cara adalah kenali pemicunya dan cari alternatif yang bisa membawa anda jauh dari kecanduan internet. Misalnya, seorang remaja membuka internet ketika ia merasa stress dan sedih. Untuk selanjutnya, ketika ia merasa stress atau sedih, ia bisajalan-jalan ke tempat wisata atau pergi bersama keluarga. Kecanduan internet merupakan suatu pergaulan yang buruk, namun kita harus bisa mencegahnya. Misalnya dengan cara membatasi waktu kita dengan internet. Internet bukanlah satu-satunya pergaulan yang berpotensi berdampak buruk. Remaja-remaja masa kini juga telah melibatkan TV di dalam gaya hidup mereka. Banyak remaja menonton TV setiap hari, bahkan beberapa orang juga kecanduan TV, sampai mereka lupa akan pelajaran-pelajaran dan studi mereka. Ada remaja-remaja yang tetap menonton TV dan tidak belajar, walaupun keesokan harinya mereka ada tes. Tentu, itu bukanlah pergaulan dan gaya hidup yang baik. Pergaulan yang kita hidupi harus bersifat positif, meskipun itu melalui media digital!

Sebagai remaja, kita seharusnya bisa mengontrol diri kita sendiri. Internet adalah sebuah kesempatan yang bagus untuk remaja-remaja sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan teman-teman dengan lebih mudah dan memperdalam pengetahuan mereka. Internet mampu membawa pengaruh-pengaruh positif dan juga negatif kepada pemakainya. Sama halnya dengan alat-alat digital atau perkembangan teknologi sosial , Internet mempermudah komunikasi antar remaja, tetapi juga bisa membawa nilai-nilai moral dan akademis remaja-remaja turun. Maka dari itu, kita harus bisa memanfaatkan internet secara positif dan sebaik-baiknya dan mengontrol diri kita, tanpa menarik dampak yang negatif. Bukankah internet akan jauh lebih bergna jika kita menggunakannya secara positif? Jadi, marilah kita memanfaatkan internet dengan sebaik-baiknya. Ingatlah, 1Korintus 15:33 berkata “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik"!

Sumber: http://urwatulwutsqa.21.forumer.com/a/facebook-turunkan-nilai-akademis_post145.html

http://mdianapriyanto.wordpress.com/2008/04/24/bahaya-kecanduan-internet/

http://ruangpsikologi.com/gangguan-kecanduan-internet


Adrian Kurnia 11.3